Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 30 Januari 2012

Pelestarian Lingkungan Hidup Gerakan Moral ke Gerakan Sosial


Apa yang dimaksud dengan lingkungan hidup? Pertanyaan mendasar tersebut harus terjawab sebelum melangkah lebih jauh tentang pelestarian lingkungan hidup. Lingkungan hidup merupakan ruang kehidupan yang terdiri beberapa komponen yang saling berinteraksi secara seimbang. Proses interaksi ini disebabkan oleh fungsi yang berbeda dari masing-masing setiap individu makhluk hidup dan berusaha menjaga dan mempertahankan eksistensi dan fungsinya. Komponen yang terdapat di dalam ruang kehidupan tersebut adalah :
·         Lingkungan fisik (anorganik), lingkungan yang terdiri dari gaya kosmik dan fisigeografis : tanah, udara, air, radisai, gaya tarik, ombak dan sebagainya.
·         Lingkungan biologi (organic), segala sesuatu yang bersifat biotis
•  Lingkungan sosial, terdiri dari :
·         Fisiososial, yaitu yang meliputi kebudayaan materil : peralatan, senjata, mesin, gedung dan sebagainya
·         Biososial manusia dan bukan manusia, yaitu manusia dan interaksi terhadap sesamanya dan hewan beserta tumbuhan domestik dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari sumber organik.
·         Psikososial, yaitu yang berhubungan dengan tabiat bathin manusia, seperti sikap, pandangan, keinginan, keyakinan. Hal ini terlihat dari kebiasaan, agama, ideology, bahasa dan lain-lain.
·         Lingkungan komposit, yaitu lingkungan yang diatur secara institusional, berupa lembaga-lembaga masyarakat
            Dengan pemahaman lingkungan hidup diatas, maka upaya pelestarian lingkungan hidup adalah upaya pelestarian komponen-komponen lingkungan hidup beserta fungsi yang melekat dan interaksi yang terjadi diantara komponen tersebut. Adanya perbedaan fungsi antara komponen dan pemanfaatan dalam pembangunan, maka pelestarian tidak dipahami sebagai pemanfaatan yang dibatasi. Namun pelestarian hendaknya dipahami sebagai pemanfaatan yang memperhatikan fungsi masing-masing komponen dan interaksi antar komponen lingkungan hidup dan pada akhirnya, diharapkan pelestarian lingkungan hidup akan memberikan jaminan eksistensi masing-masing komponen lingkungan hidup. Dengan adanya jaminan eksistensi, lingkungan hidup yang lestari dapat diwujudkan.
Upaya pelestarian lingkungan hidup yang telah dilakukan oleh banyak pihak selama ini menunjukan banyak keberhasilan dan tidak sedikit yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam masing-masing aspek. Upaya-upaya tersebut lebih terlihat sebagai gerakan yang berdiri sendiri di masing-masing lokasi, kasus dan aspek lingkungan yang dihadapi. Selain itu, upaya pelestarian yang telah dilaksanakan kurang dirasakan manfaat /kegunaan baik secara jangka menengah maupun jangka panjang.
Demikian juga dengan pelestarian lingkungan hidup yang telah dilakuakan oleh kalangan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) selama ini, lebih menekankan pada seruan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik atau melarang untuk melakukan sesuatu yang dianggap merugikan lingkungan hidup. Seruan demi seruan telah dilantangkan dan diulang setiap tahunnya oleh MAPALA dan pihak lainnya. Namun perlu diakui masih banyak kekurangan yang mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan yang hendak dicapai, yaitu bentuk upaya pelestarian yang dilakukan masih bersifat sporadis dan tidak terintegrasi dengan bagian-bagian lainnya. Inilah titik lemah dari seruan yang dikumandangkan oleh MAPALA, atau dengan kata lain upaya tersebut tidak lebih dari gerakan moral semata.
Oleh karena itu, kedepan supaya pelestarian lingkungan hidup didorong untuk merubah gerakan moral menjadi sebuah gerakan social. Gerakan sosial dalam pelestarian lingkungan hidup diartikan sebagai rangkaian upaya pelestarian yang menekankan adanya tertib sosial dan tertib implementasi dengan tujuan untuk mewujudkan eksistensi beserta interaksi komponen lingkungan. Tertib sosial menekankan pada kepatuhan pelaku-pelaku pelestarian ligkungan hidup terhadap rambu-rambu sosial yang telah ada, berkembang dan diakui oleh masyarakt setempat serta teruji mampu menjaga fungsi lingkungan hidup.
Tertib implementasi menekankan pada landasan idiil yang digunakan dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, bahwa setiap upaya didasarkan pada alasan-alasan yang diakui kebenaranya secara ilmiah. Oleh karena itu aktivitas penelitian menjadi bagian penting dalam rangkaian implementasi pelestarian lingkungan hidup. Dengan berdasarkan hasil penelitian, tahapan pelestarian lingkungan hidup sesuai dengan (perbedaan) kondisi masing-masing komponen lingkungan hidup. Dengan demikian, baik kegagalan maupun keberhasilan gerakan pelestarian lingkungan hidup dapat dievaluasi untuk kepentingan kedepan.
·         Environmentalism adalah perlindungan lingkungan hidup dari pengaruh-pengaruh luar, misalnya pencemaran, bising, pemanasan global dan perusakan sumber daya alam.
·         Salah satu contoh pertama adalah orang-orang Bishnois di Rajasthan, India, yang rela mati demi mencegah penebangan pohon-pohon di desa mereka atas perintah raja.
·         Beberapa tokoh modern adalah John Muir dan Henry David Thoreau. Thoreau tertarik akan hubungan antara manusia dan lingkungan hidup dan mempelajari hal ini dengan cara hidup dekat dengan alam dengan gaya hidup sederhana.
Lingkungan dan manusia memiliki keterkaitan yang erat, manusia merupkan bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan, dan kehidupan manusia tergantung pada kelestarian lingkungan, karena lingkungan merujuk kepada segala sesuatu yang diperlukan oleh makhluk hidup yang disebut sumber daya alam, sebaliknya kelestarian lingkungan tergantung pada aktivitas manusia.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah manusia suadah melestarikan lingkungannya sebagai aset kehidupan?, dalam hal ini saya akan memberikan stimulan mengenai dua sisi lingkungan hidup kita. Baduy (suku adat yang terletak di kabupaten Lebak, provinsi Banten) memiliki karakteristik yang khas, masyarakat Baduy benar-benar menjaga lingkungannya, tatanan sosial mereka teratata rapi.
Disana tidak ada asap rokok, polusi, bau sampah dan sebagainya. Semuanya terasa asri dan indah. Udaranya segar karena disana pepohonan yang besar dan rimbun tunbuh subur, sehingga sirkulasi udara berjalan lancar, hamparan sawah yang hijau, aliran air yang jernih, segala sesuatunya menyatu dengan alam, dan yang membuat saya berdecak kagum masyarakat disana memiliki aturan yang sudah terikat dan harus dijalankan. Mereka dilarang menggunakan sabun, pasta gigi, dan hal-hal yang bisa merusak lingkungan, bahkan mereka dilarang menebang pohon dan membunuh binatang tanpa alasan yang kuat. Menurut Puun (kepala suku Baduy) siapa saja yang melanggar pantangan tersebut maka mereka akan diusir dan tidak dianggap sebagai keluarga suku Baduy.
Selain suku Baduy, suku Naga juga sangat menjaga lingkungannya. Suku yang bertempat di kampung Naga, kabupaten Tasik Malaya Jawa Barat ini bermata pencaharian sebagai petani. Mereka sangat menjaga kelestarian hutan yang menjadi sumber air yang dapat mencegah banjir saat musim hujan dan tetap menyimpan air disaat musim kemarau, oleh karena itu ada sebuah pantangan yang melarang semua warga kampung menebang pohon di hutan, maskipun masa panennya dua kali dalam setahun, tapi hasilnya selalu melimpah karena mendapat pasokan air yang cukup. Kolam, sawah, dan kebun yang ada di kampung Naga tidak pernah kering walaupun kemarau melanda, karena hutan yang berada di atas kampung Naga masih menyediakan cadangan air yang cukup untuk penduduk yang tinggal di bawahnya.
Suku Baduy dan Naga merupakan dua diantara suku yang berada di Nusantara ini yang terikat hukum adat, mereka mengasingkan diri dari kehidupan modern, mereka lebih memilih hidup terpencil dan menyatu dengan alam, walaupun mereka tidak berpendidikan tapi mereka hidup sejahtera dan tenang. Mereka tidak pernah merasakan banjir, kekeringan, dan bencana alam lainnya karena mereka menjaga alam yang diberikan Tuhan.
Prototipe kedua suku ini berbeda dengan masyarakat modern yang pintar, berpendidikan, dan mampu menghasilakan teknologi canggih. Masyarakat modern cenderung memanfaatkan alam dengan cara yang berlebih-lebihan. Misalnya kesan yang saya dapatkan ketika mengunjungi Baduy adalah kedamaian dan keterbukaan bersama alam, lain halnya ketika saya mengunjungi kota-kota besar, kesan yang saya dapatkan sumpek dan gersang, matahari terasa menyengat, udara pengap dan bau, jalanan kotor oleh sampah yang tercecer dimana-mana, semua itu akan menimbulkan kerusakan lingkungan misalnya bangunan-bangunan tinggi yang arsitekturnya mengedepankan ruangan yang tersusun oleh kaca, yang ternyata akan menimbulkan efek rumah kaca yang berbuntut pada rusaknya lapisan ozon kita dan dampaknya akan dirasakan kembali oleh manusia, mereka akan mudah terserang kanker kulit. Selain itu udara kotor yang disebabkan oleh asap rokok dan kendaraan bermotor mengandung banyak polutan, seperti hidrokarbon dan oksida nitrogen. Oksida nitrogen di udara membantu terbetuknya ozon. Kemudian ozon dapat bereaksi dengan hidrokarbon untuk membentuk suatu polusi udara mengganggu tumbuhan dan merusak lingkungan bahkan tumbuh-tumbuhan di tepi jalan yang terkena polusi udara juga akan sukar untuk tumbuh.
Yang lebih memprihatinkan lagi pencemaran lingkungan di kota-kota yang disebabkan limbah manusia (sampah). Sampah merupakan masalah pokok yang harus segera terselesaikan, kita tidak bisa membayangkan bagaimana jika bumi ini tertutup sampah, tentu saja ini hal yang sangat mengerikan. Tapi bayangan ini bisa saja terjadi karena penanganan sampah belum optimal, misalnya kesadaran masyarakat yang belum tumbuh, mereka seenaknya saja membuang sampah sembarangan. Sampah memang bukan pemandangan yang enak dilihat, apalagi kalau ingat isinya hanya benda-benda bekas, kotor, tua, dan rusak. Saat ini di kota-kota besar sampah bebas berkeliaran di air ataupun di darat, sampah merubah kejernihan air menjadi coklat pekat, sampah yang menumpuk bisa memancing datangnya lalat, nyamuk, serta menimbulkan bau busuk, dan jika didiamkan dalam waktu lama akan menyebabkan timbulnya penyakit, misalnya diare, infeksi saluran pernafasan (ISPA), dan sebagainya. Selain itu sampah yang berada di air membuat air menjadi dangkal, dan jika musim hujan tiba bisa menimbulkan bahaya banjir, air yang tercemar sampah dan limbah industri menjadi kotor dan membuat kita sulit mendapatkan air bersih, laut yang tercemar sampah akan menyebabkan biota di dalamnya mati dan dampaknya kita tidak bisa menikmati hasil laut.
Ketika lingkungan mengalami kerusakan, dan bencana terjadi dimana-mana, orang baru menyadari pentingnya pelestarian lingkungan, mereka baru sadar bahwa apa yang dilakukan selama ini salah. Manusia merasa menguasai lingkungan dengan segala kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya dan seenaknya memanfaatkan lingkungan di luar batas, ketika lingkungan menjadi rusak dan tercemar, dampaknya ternyata memantul kembali kepada manusia. Jika biosfer rusak, bumi tidak mampu lagi menyokong adanya kehidupan. Pada akhirnya kelestarian manusia akan terancam dan punah.
Dewasa ini memang telah muncul kesadaran dan kepedulian lingkungan, banyak upaya yang telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh setiap individu. Pada dasarnya, memang prinsip yang dapat dilakukan untuk melakukan pelestarian, pencegahan, dan penanggulangan pencemaran yaitu secara administratif (adanya peraturan / undang-undang dari pemerintah), di Indonesia sepertinya undang-undang lingkungan hidup belum sepenuhnya terlaksana, akhirnya banyak oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan terbebas dari jeratan hukum. Seharusnya undang-undang bukan hanya sekedar hukum tertulis, tapi harus juga menjadi pelindung  lingkungan. Jika undang-undang tersebut benar-benar dilaksanakan, tentu saja kerusakan yang diakibatkan ulah tangan manusia akan sedikit terkurangi. Secara teknologis (adnya peralatan pengolah limbah, pembakar sampah), adanya teknologi tersebut sangat membantu terpeliharanya lingkungan, misalnya alat pembakar sampah dapat digunakan untuk membakar sampah-sampah anorganik yang merusak linkungan karena sulit diuraikan oleh bakteri. Secara edukatif / pendidikan  (melakukan penyuluhan kepada masyarakat, dan pendidikan di sekolah-sekolah) dengan adanya penyuluhan yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat umum ataupun pelajar akan membantu meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya melestarikan lingkungan. Prinsip dasar tersebut tidak akan berjalan jika manusia terus berupaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya tanpa memperhatikan lingkungan.
Adapun upaya yang dapat kita lakukan secara individu adalah dengan menampakkan sikap peduli lingkungan pada diri masing-masing. Jika kesadaran sudah tercipta tentunya akan mudah bagi kita untuk melestarikan lingkungan, kita mulai melestarikan lingkungan dari hal yang terkecil dahulu, misalnya membiasakan buang sampah pada tempatnya. Selain itu tanamkan dan upayakan sikap hemat energi, karena sumber daya alam kita terdiri dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Jika sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui habis, maka tidak ada lagi pnggantinya selain mencari alternatif lain, oleh karena itu kita upayakan hemat energi dari sekarang sebelum sumber daya alam kita habis.
Hal yang paling sederhana adalah kita sebagai manusia modern yang terpelajar, memiliki banyak pengetahuan dan mampu mengaplikasikan kemampuannya. Dengan akal dan kemampuannya tersebut manusia mampu menghasilkan teknologi yang mampu menghantarkan hidup ke arah yang lebih baik dan segalanya serba mudah. Jadi alangkah bodohnya jika kita terkalahkan oleh kedua suku yang saya paparkan tersebut. Mereka masih primitif dan tidak sekolah, tapi upaya yang mereka lakukan untuk menjaga lingkungannya melebihi kita.
Upaya yang mereka lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup selaras dan sejalan dengan lingkungan, alam memberi dan mereka menjaga. Dan kita sebagai manusia modern seharusnya lebih faham tentang keadaan lingkungan dan tidak ada salahnya jika belajar dari suku-suku yang ada di dunia ini yang terus menjaga bumi, alangkah indahnya jika lingkungan kita seperti lingkungan masyarakat Baduy yang berfalsafah pada alam, bersahabat dengan alam. Melupakan nafsu sesaat demi tercapainya kehidupan yang tentram akan lebih baik dibandingkan kita merasakan akibat yang lebih fatal akibat kecerobohan kita memanfaatkan lingkungan.
Tuhan menciptakan alam untuk kita, jadi sepantasnyalah  kita untuk menjaganya untuk anak cucu kita dimasa depan. Pelestarian lingkungan akan tercapai jika kita melaksanakannya dengan kesadaran bahwa alam adalah aset hidup kita yang sepatutnya diperlakukan secara layak, bumi akan tersenyum bahagia melihat tubuhnya yang bersih terjaga. Belajar dari masyarakat yang primitif bukanlah hal sulit bagi kita, karena yang mereka lakukan amatlah sederhana. Tetapi dengan kesederhanaan itulah mereka dapat menjaga bumi dari kehancuran.


Senin, 09 Januari 2012

hidup yang baik

kita terlahir di dunia dengan keadaan telanjang. artunya adalah bahwa semua orang itu sama. sama sama dilahirkan dari rahim seorang ibu, tpi kenapa orang selalu membedakan rang lain???? itulah yang menjadi pertanyaan pada tulisan ini.
dalam hidup ini semua orang berusaha,,,, tidak ada yang tidak berusaha,,,, yang menjadi tolak ukur kesuksesan adalah jalan usaha yang kita ambil.... banyak orang yang mengatakan bahwa orang yang tidak berhasil dari segi materi karena dia tidak mau berusaha,,,, itu salah.............
semua orang itu berusaha.... tapi apa yang diusahakan itu yang jadi masalah........!!!!!!
banyak orang yang sukses tapi dari hasil korupsi, menipu berlaku tidak adil dan tidak jujur,,,, itu bukan keberhasilan namanya....... tapi menabung dosa...... dan hukumannya sangat berat di akhirat........
coba kita bayangkan..... ketika kita mencuri uang milik teman misalkan...... hanya mencuri saja sudah dapat dosa,,, belum lagi ketika kita membelanjakannya,,,, kemudian memakainya.... subhannallah..... berapa dosa yang ita dapatkan dengan mencuri sejumlah uang...... belum lagi do'a yg buruk dari yg kehilangan......

oleh karena itu,,,,, berrjalanlah dijalan yang baik kawan,,,, jangan lupakan tuhanmu,,,, lakukan apa yang dierintahkan dan jauhi apa yang dilarang........