
Apa yang dimaksud dengan lingkungan
hidup? Pertanyaan mendasar tersebut harus terjawab sebelum melangkah lebih jauh
tentang pelestarian lingkungan hidup. Lingkungan hidup merupakan ruang kehidupan
yang terdiri beberapa komponen yang saling berinteraksi secara seimbang. Proses
interaksi ini disebabkan oleh fungsi yang berbeda dari masing-masing setiap
individu makhluk hidup dan berusaha menjaga dan mempertahankan eksistensi dan
fungsinya. Komponen yang terdapat di dalam ruang kehidupan tersebut adalah :
·
Lingkungan fisik (anorganik), lingkungan
yang terdiri dari gaya kosmik dan fisigeografis : tanah, udara, air, radisai,
gaya tarik, ombak dan sebagainya.
·
Lingkungan biologi (organic), segala
sesuatu yang bersifat biotis
•
Lingkungan sosial, terdiri dari :
·
Fisiososial, yaitu yang meliputi
kebudayaan materil : peralatan, senjata, mesin, gedung dan sebagainya
·
Biososial manusia dan bukan manusia,
yaitu manusia dan interaksi terhadap sesamanya dan hewan beserta tumbuhan
domestik dan semua bahan yang digunakan manusia yang berasal dari sumber
organik.
·
Psikososial, yaitu yang berhubungan
dengan tabiat bathin manusia, seperti sikap, pandangan, keinginan, keyakinan.
Hal ini terlihat dari kebiasaan, agama, ideology, bahasa dan lain-lain.
·
Lingkungan komposit, yaitu lingkungan
yang diatur secara institusional, berupa lembaga-lembaga masyarakat
Dengan
pemahaman lingkungan hidup diatas, maka upaya pelestarian lingkungan hidup
adalah upaya pelestarian komponen-komponen lingkungan hidup beserta fungsi yang
melekat dan interaksi yang terjadi diantara komponen tersebut. Adanya perbedaan
fungsi antara komponen dan pemanfaatan dalam pembangunan, maka pelestarian
tidak dipahami sebagai pemanfaatan yang dibatasi. Namun pelestarian hendaknya
dipahami sebagai pemanfaatan yang memperhatikan fungsi masing-masing komponen
dan interaksi antar komponen lingkungan hidup dan pada akhirnya, diharapkan
pelestarian lingkungan hidup akan memberikan jaminan eksistensi masing-masing
komponen lingkungan hidup. Dengan adanya jaminan eksistensi, lingkungan hidup
yang lestari dapat diwujudkan.
Upaya
pelestarian lingkungan hidup yang telah dilakukan oleh banyak pihak selama ini
menunjukan banyak keberhasilan dan tidak sedikit yang mengalami hambatan dalam
mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam masing-masing aspek. Upaya-upaya
tersebut lebih terlihat sebagai gerakan yang berdiri sendiri di masing-masing
lokasi, kasus dan aspek lingkungan yang dihadapi. Selain itu, upaya pelestarian
yang telah dilaksanakan kurang dirasakan manfaat /kegunaan baik secara jangka
menengah maupun jangka panjang.
Demikian
juga dengan pelestarian lingkungan hidup yang telah dilakuakan oleh kalangan
Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) selama ini, lebih menekankan pada seruan untuk
melakukan sesuatu yang lebih baik atau melarang untuk melakukan sesuatu yang
dianggap merugikan lingkungan hidup. Seruan demi seruan telah dilantangkan dan
diulang setiap tahunnya oleh MAPALA dan pihak lainnya. Namun perlu diakui masih
banyak kekurangan yang mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan yang hendak
dicapai, yaitu bentuk upaya pelestarian yang dilakukan masih bersifat sporadis
dan tidak terintegrasi dengan bagian-bagian lainnya. Inilah titik lemah dari
seruan yang dikumandangkan oleh MAPALA, atau dengan kata lain upaya tersebut
tidak lebih dari gerakan moral semata.
Oleh
karena itu, kedepan supaya pelestarian lingkungan hidup didorong untuk merubah
gerakan moral menjadi sebuah gerakan social. Gerakan sosial dalam pelestarian
lingkungan hidup diartikan sebagai rangkaian upaya pelestarian yang menekankan
adanya tertib sosial dan tertib implementasi dengan tujuan untuk mewujudkan
eksistensi beserta interaksi komponen lingkungan. Tertib sosial menekankan pada
kepatuhan pelaku-pelaku pelestarian ligkungan hidup terhadap rambu-rambu sosial
yang telah ada, berkembang dan diakui oleh masyarakt setempat serta teruji
mampu menjaga fungsi lingkungan hidup.
Tertib
implementasi menekankan pada landasan idiil yang digunakan dalam upaya
pelestarian lingkungan hidup, bahwa setiap upaya didasarkan pada alasan-alasan
yang diakui kebenaranya secara ilmiah. Oleh karena itu aktivitas penelitian
menjadi bagian penting dalam rangkaian implementasi pelestarian lingkungan
hidup. Dengan berdasarkan hasil penelitian, tahapan pelestarian lingkungan
hidup sesuai dengan (perbedaan) kondisi masing-masing komponen lingkungan
hidup. Dengan demikian, baik kegagalan maupun keberhasilan gerakan pelestarian
lingkungan hidup dapat dievaluasi untuk kepentingan kedepan.
·
Environmentalism adalah perlindungan lingkungan hidup dari pengaruh-pengaruh
luar, misalnya pencemaran,
bising, pemanasan
global dan perusakan sumber daya
alam.
·
Salah satu contoh pertama adalah
orang-orang Bishnois di Rajasthan, India, yang rela mati demi mencegah
penebangan pohon-pohon di desa mereka atas perintah raja.
·
Beberapa tokoh modern adalah John Muir
dan Henry David Thoreau. Thoreau tertarik akan hubungan antara manusia dan
lingkungan hidup dan mempelajari hal ini dengan cara hidup dekat dengan alam dengan
gaya hidup sederhana.
Lingkungan dan
manusia memiliki keterkaitan yang erat, manusia merupkan bagian yang tak
terpisahkan dari lingkungan, dan kehidupan manusia tergantung pada kelestarian
lingkungan, karena lingkungan merujuk kepada segala sesuatu yang diperlukan
oleh makhluk hidup yang disebut sumber daya alam, sebaliknya kelestarian
lingkungan tergantung pada aktivitas manusia.
Yang menjadi
pertanyaan adalah apakah manusia suadah melestarikan lingkungannya sebagai aset
kehidupan?, dalam hal ini saya akan memberikan stimulan mengenai dua sisi
lingkungan hidup kita. Baduy (suku adat yang terletak di kabupaten Lebak,
provinsi Banten) memiliki karakteristik yang khas, masyarakat Baduy benar-benar
menjaga lingkungannya, tatanan sosial mereka teratata rapi.
Disana tidak
ada asap rokok, polusi, bau sampah dan sebagainya. Semuanya terasa asri dan
indah. Udaranya segar karena disana pepohonan yang besar dan rimbun tunbuh
subur, sehingga sirkulasi udara berjalan lancar, hamparan sawah yang hijau,
aliran air yang jernih, segala sesuatunya menyatu dengan alam, dan yang membuat
saya berdecak kagum masyarakat disana memiliki aturan yang sudah terikat dan
harus dijalankan. Mereka dilarang menggunakan sabun, pasta gigi, dan hal-hal
yang bisa merusak lingkungan, bahkan mereka dilarang menebang pohon dan
membunuh binatang tanpa alasan yang kuat. Menurut Puun (kepala suku Baduy)
siapa saja yang melanggar pantangan tersebut maka mereka akan diusir dan tidak
dianggap sebagai keluarga suku Baduy.
Selain suku
Baduy, suku Naga juga sangat menjaga lingkungannya. Suku yang bertempat di
kampung Naga, kabupaten Tasik Malaya Jawa Barat ini bermata pencaharian sebagai
petani. Mereka sangat menjaga kelestarian hutan yang menjadi sumber air yang
dapat mencegah banjir saat musim hujan dan tetap menyimpan air disaat musim
kemarau, oleh karena itu ada sebuah pantangan yang melarang semua warga kampung
menebang pohon di hutan, maskipun masa panennya dua kali dalam setahun, tapi
hasilnya selalu melimpah karena mendapat pasokan air yang cukup. Kolam, sawah,
dan kebun yang ada di kampung Naga tidak pernah kering walaupun kemarau
melanda, karena hutan yang berada di atas kampung Naga masih menyediakan
cadangan air yang cukup untuk penduduk yang tinggal di bawahnya.
Suku Baduy dan
Naga merupakan dua diantara suku yang berada di Nusantara ini yang terikat
hukum adat, mereka mengasingkan diri dari kehidupan modern, mereka lebih
memilih hidup terpencil dan menyatu dengan alam, walaupun mereka tidak
berpendidikan tapi mereka hidup sejahtera dan tenang. Mereka tidak pernah
merasakan banjir, kekeringan, dan bencana alam lainnya karena mereka menjaga
alam yang diberikan Tuhan.
Prototipe kedua
suku ini berbeda dengan masyarakat modern yang pintar, berpendidikan, dan mampu
menghasilakan teknologi canggih. Masyarakat modern cenderung memanfaatkan alam
dengan cara yang berlebih-lebihan. Misalnya kesan yang saya dapatkan ketika
mengunjungi Baduy adalah kedamaian dan keterbukaan bersama alam, lain halnya
ketika saya mengunjungi kota-kota besar, kesan yang saya dapatkan sumpek dan
gersang, matahari terasa menyengat, udara pengap dan bau, jalanan kotor oleh
sampah yang tercecer dimana-mana, semua itu akan menimbulkan kerusakan
lingkungan misalnya bangunan-bangunan tinggi yang arsitekturnya mengedepankan
ruangan yang tersusun oleh kaca, yang ternyata akan menimbulkan efek rumah kaca
yang berbuntut pada rusaknya lapisan ozon kita dan dampaknya akan dirasakan
kembali oleh manusia, mereka akan mudah terserang kanker kulit. Selain itu
udara kotor yang disebabkan oleh asap rokok dan kendaraan bermotor mengandung
banyak polutan, seperti hidrokarbon dan oksida nitrogen. Oksida nitrogen di
udara membantu terbetuknya ozon. Kemudian ozon dapat bereaksi dengan
hidrokarbon untuk membentuk suatu polusi udara mengganggu tumbuhan dan merusak
lingkungan bahkan tumbuh-tumbuhan di tepi jalan yang terkena polusi udara juga
akan sukar untuk tumbuh.
Yang lebih
memprihatinkan lagi pencemaran lingkungan di kota-kota yang disebabkan limbah
manusia (sampah). Sampah merupakan masalah pokok yang harus segera
terselesaikan, kita tidak bisa membayangkan bagaimana jika bumi ini tertutup
sampah, tentu saja ini hal yang sangat mengerikan. Tapi bayangan ini bisa saja
terjadi karena penanganan sampah belum optimal, misalnya kesadaran masyarakat
yang belum tumbuh, mereka seenaknya saja membuang sampah sembarangan. Sampah
memang bukan pemandangan yang enak dilihat, apalagi kalau ingat isinya hanya
benda-benda bekas, kotor, tua, dan rusak. Saat ini di kota-kota besar sampah
bebas berkeliaran di air ataupun di darat, sampah merubah kejernihan air
menjadi coklat pekat, sampah yang menumpuk bisa memancing datangnya lalat,
nyamuk, serta menimbulkan bau busuk, dan jika didiamkan dalam waktu lama akan
menyebabkan timbulnya penyakit, misalnya diare, infeksi saluran pernafasan
(ISPA), dan sebagainya. Selain itu sampah yang berada di air membuat air
menjadi dangkal, dan jika musim hujan tiba bisa menimbulkan bahaya banjir, air
yang tercemar sampah dan limbah industri menjadi kotor dan membuat kita sulit
mendapatkan air bersih, laut yang tercemar sampah akan menyebabkan biota di
dalamnya mati dan dampaknya kita tidak bisa menikmati hasil laut.
Ketika
lingkungan mengalami kerusakan, dan bencana terjadi dimana-mana, orang baru
menyadari pentingnya pelestarian lingkungan, mereka baru sadar bahwa apa yang
dilakukan selama ini salah. Manusia merasa menguasai lingkungan dengan segala
kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya dan seenaknya memanfaatkan lingkungan
di luar batas, ketika lingkungan menjadi rusak dan tercemar, dampaknya ternyata
memantul kembali kepada manusia. Jika biosfer rusak, bumi tidak mampu lagi
menyokong adanya kehidupan. Pada akhirnya kelestarian manusia akan terancam dan
punah.
Dewasa ini
memang telah muncul kesadaran dan kepedulian lingkungan, banyak upaya yang
telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh setiap individu. Pada
dasarnya, memang prinsip yang dapat dilakukan untuk melakukan pelestarian,
pencegahan, dan penanggulangan pencemaran yaitu secara administratif (adanya
peraturan / undang-undang dari pemerintah), di Indonesia sepertinya
undang-undang lingkungan hidup belum sepenuhnya terlaksana, akhirnya banyak
oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan terbebas dari jeratan
hukum. Seharusnya undang-undang bukan hanya sekedar hukum tertulis, tapi harus
juga menjadi pelindung lingkungan. Jika undang-undang tersebut
benar-benar dilaksanakan, tentu saja kerusakan yang diakibatkan ulah tangan
manusia akan sedikit terkurangi. Secara teknologis (adnya peralatan pengolah
limbah, pembakar sampah), adanya teknologi tersebut sangat membantu
terpeliharanya lingkungan, misalnya alat pembakar sampah dapat digunakan untuk
membakar sampah-sampah anorganik yang merusak linkungan karena sulit diuraikan
oleh bakteri. Secara edukatif / pendidikan (melakukan penyuluhan kepada
masyarakat, dan pendidikan di sekolah-sekolah) dengan adanya penyuluhan yang
dilakukan pemerintah kepada masyarakat umum ataupun pelajar akan membantu
meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya melestarikan lingkungan. Prinsip
dasar tersebut tidak akan berjalan jika manusia terus berupaya meningkatkan
kesejahteraan hidupnya tanpa memperhatikan lingkungan.
Adapun upaya
yang dapat kita lakukan secara individu adalah dengan menampakkan sikap peduli
lingkungan pada diri masing-masing. Jika kesadaran sudah tercipta tentunya akan
mudah bagi kita untuk melestarikan lingkungan, kita mulai melestarikan
lingkungan dari hal yang terkecil dahulu, misalnya membiasakan buang sampah
pada tempatnya. Selain itu tanamkan dan upayakan sikap hemat energi, karena
sumber daya alam kita terdiri dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan
sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Jika sumber daya alam yang tidak
dapat diperbaharui habis, maka tidak ada lagi pnggantinya selain mencari
alternatif lain, oleh karena itu kita upayakan hemat energi dari sekarang
sebelum sumber daya alam kita habis.
Hal yang paling
sederhana adalah kita sebagai manusia modern yang terpelajar, memiliki banyak
pengetahuan dan mampu mengaplikasikan kemampuannya. Dengan akal dan kemampuannya
tersebut manusia mampu menghasilkan teknologi yang mampu menghantarkan hidup ke
arah yang lebih baik dan segalanya serba mudah. Jadi alangkah bodohnya jika
kita terkalahkan oleh kedua suku yang saya paparkan tersebut. Mereka masih
primitif dan tidak sekolah, tapi upaya yang mereka lakukan untuk menjaga
lingkungannya melebihi kita.
Upaya yang
mereka lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup selaras dan sejalan
dengan lingkungan, alam memberi dan mereka menjaga. Dan kita sebagai manusia
modern seharusnya lebih faham tentang keadaan lingkungan dan tidak ada salahnya
jika belajar dari suku-suku yang ada di dunia ini yang terus menjaga bumi,
alangkah indahnya jika lingkungan kita seperti lingkungan masyarakat Baduy yang
berfalsafah pada alam, bersahabat dengan alam. Melupakan nafsu sesaat demi
tercapainya kehidupan yang tentram akan lebih baik dibandingkan kita merasakan
akibat yang lebih fatal akibat kecerobohan kita memanfaatkan lingkungan.
Tuhan
menciptakan alam untuk kita, jadi sepantasnyalah kita untuk menjaganya
untuk anak cucu kita dimasa depan. Pelestarian lingkungan akan tercapai jika
kita melaksanakannya dengan kesadaran bahwa alam adalah aset hidup kita yang
sepatutnya diperlakukan secara layak, bumi akan tersenyum bahagia melihat tubuhnya
yang bersih terjaga. Belajar dari masyarakat yang primitif bukanlah hal sulit
bagi kita, karena yang mereka lakukan amatlah sederhana. Tetapi dengan
kesederhanaan itulah mereka dapat menjaga bumi dari kehancuran.